I forgive u…
Sebuah kata terindah yang pernah kau ucapkan. lalu tanganmu mendarat di kepalaku yang kau usap perlahan. Sebuah kelembutan yang kurasakan ketika kau mengusap perlahan butir air di bawah mataku. kau tersenyum, sangat pelan…berusaha menenangkanku, walau kutahu kau berusaha keras menenangkan dirimu.
Kesalahan itu terasa perih ketika mata biru itu tak sanggup lagi menampung air mata. namun kau tetap tersenyum, tersenyum sangat pelan. “I forgive u, can u smile for me? I feel hurt not because u hurting me, but because of i see u crying.” Perlahan kau memelukku yang rapuh dengan seutuhnya kepercayaan. Dan mencium tanganku dengan sepenuhnya kesetiaan.
Andaikan kau tahu betapa menyesalnya aku akan sebuah pengkhiatan. Pengkhianatan ini ternyata untuk diriku sediri. Akulah pengkhianatnya, namun akulah korban terbesarnya. Aku bahkan belum sempat mengusap mata indah yang penuh airmata itu. Aku belum sanggup mencium tanganmu yang dengan sigap mejagaku.
I FORGIVE U….
Tapi aku tidak dapat memaafkan diriku sendiri. Yang pengecut akan kesendirian. Sebuah jiwa muda yang begitu rapuh. Apakah kita bertemu terlalu muda? Sehingga kepercayaan belum terbangun seutuhnya.
kau tetap disampingku, menjagaku tidur terlelap yang lelah menangis dan menyesal. Sambil memegang tangankudan kemudian perlahan wajahmu mendekati wajahku ” I never left u behind , dont be afraid ,you can proof that i will still here”. Diat tidak pergi, dia tetap menjagaku di sisi tidurku.
Saat itu, 6 tahun lalu… aku tetap tidak bisa tidur. Kita tidak dapat tertidur walau mata ini telah lelah terpejam. Namun hanya terpejam. …
saat ini, 6 tahun setelahnya… aku juga tidak dapat memejamkan mata. mengingat kembali terjagaku 6 tahun lalu… berharap aku dapat tidur saat itu, agar aku dapat tidur saat ini.

Great work.